Sabtu, 02 Maret 2013

Cara Menghadapi Kegelisahan Menurut Islam


Dirasakan atau tidak, bahwa sumber keresahan dan kegelisahan adalah "Hubbud-dunia" (Cinta Dunia) di mana manusia memiliki sifat dasar "Tamak" dalam memenuhinya dan cenderung berkeluh kesah bila tidak berhasil memenuhi serta bila mendapat kelebihan akan kikir (QS. Al Ma'aarij, 70:18-21).

"Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila la ditimpa kesusahan la berkeluh kesah, dan apabila la mendapat kebaikan la amat kikir" (QS. Al Ma'aarij, 70:18-21)

Berbicara tentang kegelisahan, dalam sebuah pertemuan suatu ketika Sayidina Ali Ra ditanya oleh para sahabat: "Makhluk apakah yang paling kuat di dunia ini?" Beliau seketika menjawab: "Makhluk Allah yang paling kuat di dunia ini adalah gunung yang tegak berdiri". Namun gunung dapat dihancurkan besi (dihancurkan dengan alat-alat berat), karenanya besilah yang terkuat. Tapi besi dapat dilelehkan oleh api (pengelasan besi), jadi apilah yang terkuat. Sedangkan api bisa dipadamkan oleh air, oleh sebab itu airlah yang terkuat. Namun air bisa dimainkan oleh angin (kincir-kincirair). Sementara angin bisa dikalahkan manusia (dimanfaatkan memompa ban atau balon), jadi manusialah yang terkuat. Hanya saja manusia bisa dikalahkan oleh mabuk, karenanya mabuklah yang terkuat. Tapi mabuk bisa dikalahkan oleh tidur, di mana dengan demikian tidurlah yang terkuat, Namun orang yang jiwanya sedang resah, gelisah, was-was dan cemas, pasti akan sulit (bahkan tidak bisa) tidur. Sampai dengan kalimat yang terakhir ini, berhentilah Sayidina Ali Ra menjawab pertanyaan para sahabat, di mana dengan uraiannya yang unik tersebut beliau bermaksud menyatakan, bahwa yang paling sulit dihadapi manusia dalam meniti kehidupan di dunia ini adalah menghadapi dan mengatasi kegelisahan jiwa.


Tuntunan Islam dalam menghadapi kegelisahan jiwa di antaranya, Pertama, meningkatkan keimanan yang dapat mengantarkan seseorang lebih mencintai Allah dan keputusan-Nya daripada dunia dengan segala isinya. Allah SWT berfirman: "Dan orang yang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah" (Q.S. Al Baqarah, 2 : 165). Juga dalam firman-Nya: Katakanlah: "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu peroleh, perniagaan yang kamu kha watirkan merugi dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggullah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak menunjuki kaum yang fasik"(AtTaubah,9:24)

Kedua, mengetahui tujuan hidup. Menyadari bahwasanya kebahagiaan dunia bukanlah tujuan hidup, ia hanya alat untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki di akhirat nanti. Allah SWT berfirman: "Dan carilah dengan apa yang dianugerahkan Allah kepada engkau akan negeri akhirat dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu" (Q.S. Al Qashash,28:77).

Ketiga, keikhlasan dan kesadaran menerima ketentuan yang telah ditetapkan-Nya karena Allah SWT memberikan rezeki kepada masing-masing manusia tidaklah sama. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang Allah lebihkan sebagian kamu daripada yang lain" (Q.S. An Nisaa',4:32)

Keempat, "Husnudz-dzhan" (berbaik sangka) kepada Allah, bahwasanya sepanjang kita telah beriman dan berusaha maksimal dengan cara yang diridhai Allah SWT pasti Allah SWT akan menetapkan sesuatu yang terbaik bagi kita. Allah SWT berfirman: "Diwajibkan kepada kamu berperang walaupun itu sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Q.S. Al Baqarah, 2 : 216). Juga dalam firman-Nya: "Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana berdoa untuk kebaikan. Adalah manusia suka tergesa-gesa" (QS. Al Israa', 17 : 11). Apa yang di tangan orang lain, tidak mustahil merupakan cobaan yang sengaja Allah SWT hindarkan dari diri kita.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada kita sekalian.Amin Yaa Rabbal Alamiin.
Wallahu a'lam bish-shawab. Wassalaam

sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar